Event pentas musik Japanese Whisper 3 kembali hadir di dua kota sekaligus

Untuk ketiga kalinya, kolektif indie Yogyakarta Common People menggelar rangkaian pertunjukan musik di bawah tajuk Japanese Whispers. Rangkaian acara kali ini akan diadakan di dua kota, Yogyakarta (7 Februari 2014) dan Jakarta (9 Februari 2014). Tampil sebagai bintang tamu ialah duo pop asal Hokkaido, Jepang, KONCOS.

Seperti biasa, KONCOS (baca: kon-kos) akan berbagi panggung dengan sederetan musisi lokal. Di Yogyakarta, ada Answer Sheet dengan eksplorasi instrumen ukulele yang khas dan grup pop akustik manis bervokalis wanita, Waza. Di Jakarta, mereka akan tampil bersama band indie pop all-girl ikonik, Clover; solois yang akan merilis album debut, Puti Chitara; dan Tokyolite, band funk pop yang pernah tampil di Jepang dan mini albumnya dirilis oleh sebuah label di negara tersebut.

Jika Japanese Whispers #1 bernuansa shoegaze/dream pop dan Japanese Whispers #2 indie rock, acara kali ini mengambil benang merah Shibuya-kei — subgenre musik pop yang tumbuh pada awal 90an di distrik Shibuya, pusat musik dan fashion di Tokyo.

Image

Gerakan ini dibangun oleh anak-anak muda penggila vinyl dan CD impor dari Barat yang melahap musik sebanyak-banyaknya tanpa peduli era, bahasa, tren atau genre. Hasilnya adalah gabungan unik antara pop yé-yé khas Prancis, bossanova Brazil, girl groups dan baroque pop 60an, synth pop dan lain-lain.

Shibuya-kei adalah contoh intertekstualitas postmodern ala Jepang yang mengadopsi berbagai unsur budaya pop Barat dan mengolahnya menjadi sesuatu yang khas tanpa berusaha menjadi persis pemusik Barat. Sampai-sampai, pemilik budaya asli terpana melihatnya dan justru mengimpor produk tersebut (aliran ini terkenal di seluruh dan dimainkan oleh musisi luar Jepang, contohnya Momus dari Skotlandia).

Kedua personel KONCOS merupakan nama-nama yang telah lama berkecimpung di dunia tersebut. Taichi Furukawa (piano) dan Sato Hiroshi (gitar-vokal), duet yang sering didapuk sebagai penerus Flipper’s Guitar, sebelumnya tergabung dalam band Riddim Saunter. Tahun 2012, mereka merilis album debut Piano Forte dan melakukan tur ke 47 perfektur di Jepang untuk menggali hal-hal menarik dari setiap tempat yang mereka kunjungi.

Apa Itu Japanese Whispers?

Japanese Whispers adalah pentas musik yang tumbuh dari pertukaran musisi independen di Jepang dan Indonesia. Tujuan acara ini antara lain untuk membangun hubungan kerja sama antara pelaku scene musik independen dan saling memperkenalkan musisi di kedua negara.

Cikal bakal acara ini berawal di udara pada tahun 2010. Outerbeat, program radio mingguan Common People, kerap mengundang musisi lokal untuk berbincang-bincang dan bermain di sesi akustik on-air. Pada Agustus 2010, band dream pop lokal yang menulis lirik dalam bahasa Jepang, Paraparanoid, tampil dan membahas tentang Japanese shoegaze (J-shoegaze).

Siaran tersebut didengarkan oleh personel band-band J-shoegaze ternama, Texas Pandaa dan Luminous Orange. Dari situ, para personel Texas Pandaa —yang sebelumnya sudah menjalin pertemanan dengan personel Paraparanoid— terkesan dengan scene musik tanah air dan mulai mendengarkan band-band Indonesia.

Pada tahun 2011, mereka menyatakan tertarik untuk bermain di Indonesia. Common People bekerja sama dengan FastForward Records mengadakan tur sederhana Texas Pandaa di dua kota. Kuartet shoegaze tersebut bermain di acara Hyperborea, Bandung bersama Themilo, Ansaphone, L’alphalpha dan Jelly Belly pada 17 September 2011 dan di Yogyakarta bersama Mellonyellow dan Paraparanoid dua hari sesudahnya. Itulah edisi perdana Japanese Whispers.

Image

Kunjungan ke Jepang

Tahun berikutnya, giliran Texas Pandaa membantu band Yogyakarta Brilliant at Breakfast —salah satu band Indonesia yang diinginkan Texas Pandaa untuk berbagi panggung, namun belum memungkinkan— untuk tampil di Jepang. Kebetulan album grup indie pop ini telah beredar di sejumlah record store di sana.

Brilliant at Breakfast tampil di dua tempat di Tokyo akhir Oktober 2012. Di Koenji High, sebuah live house yang cukup ternama, mereka berbagi panggung dengan 4 Bonjour Party, Honeydew, Bertoia dan Texas Pandaa. Esok harinya, mereka tampil di Echo, sebuah klub kecil di area Shibuya, bersama It Happens dan Mitsume.

Image

Di gig yang dikurasi oleh komunitas Twee Grrls Club itulah pertama kalinya mereka tampil pada pukul setengah dua dini hari, dan yang lebih penting, pertama kalinya mereka berkenalan dengan band indie ekletik, Mitsume. Dalam obrolan setelah gig, mereka banyak bertanya tentang Indonesia dan scene musik independennya, lalu menyatakan tertarik untuk mengunjungi Indonesia.

Bukan, ini bukan deja vu.

Japanese Whispers #2

Singkat cerita, sekuel dari Japanese Whispers diadakan pada tanggal 23 Maret 2013 di Yogyakarta, menampilkan grup britpop Dojihatori sebagai wakil tuan rumah, The Aftermiles (Jakarta) dan Mitsume sebagai bintang tamu. Sayang, jadwal kerja para personel Mitsume tidak memungkinkan untuk mengunjungi kota lain di Indonesia.

Di Shibuya atau di Yogyakarta, sulit untuk tak terkesan melihat penampilan live Mitsume. Mereka lihai membumbui musik indie pop/rock mereka dengan unsur-unsur bossa, britpop, mod, synthpop, sampai dengan feedback khas musik alternatif dua dekade lalu. Kombinasikan dengan tampilan fisik yang cukup enak dilihat; alhasil para penonton perempuan pulang dengan suara serak.

Tak hanya kaum hawa, penonton dari kedua jenis kelamin bersorak puas saat kuartet ini mengakhiri set encore dengan feedback gitar yang meraung, drum bertalu-talu, dan basis yang memanjat bass drum. Bagi Mitsume sendiri, ini adalah pengalaman pertama mereka tampil di luar Jepang dan mereka mengaku sangat senang dapat bermain di Indonesia.

Image

Dan seterusnya…

Sekembalinya rombongan Mitsume dan videografer mereka ke negara asal, mereka bercerita tentang pengalaman tampil di Indonesia. Entah apa isi ceritanya, yang jelas —bisa ditebak— duo KONCOS pun penasaran, tertarik untuk bertandang dan tampil bersama musisi-musisi Indonesia. (Ini juga bukan deja vu.)

Image

Baik Anda penggemar genre Shibuya-kei, budaya populer Jepang, atau musik independen secara umum, tak ada salahnya datang; menikmati karya musisi dari negeri seberang dan melihat mereka menikmati karya musisi Indonesia.

Dari Doraemon, AKB48 sampai Pizzicato Five, kita sudah terbiasa berada di bawah pesona budaya populer Jepang. Namun bisa jadi, untuk segala pesona budaya populer Jepang yang kita rasakan, mereka pun tak kalah tertariknya dengan apa yang kitapunya.

Part I:
Yogyakarta, 7 February 2014 | SHOW START 7 PM ON TIME
KONCOS (from Japan) / WAZA / Answer Sheet
Auditorium Institut Français Indonesia (IFI-LIP) Yogyakarta
Tickets :
Pre-sale Rp 20.000 at Swaragama FM (9 AM – 5 PM)
On the Spot Rp 25.000

Menampilkan:
– KONCOS (Japan) | www.koncos.net
– WAZA | www.myspace.com/WAZAism
– Answer Sheet | www.answersheet.co.nr

Penjualan tiket pre-sale Yogyakarta dimulai Senin, 20 Januari 2014.

Map access to IFI LIP : http://wp.me/p3cPaz-2E

Part II :
Jakarta, 9 February 2014
KONCOS (from Japan) / Clover / Tokyolite / Puti Chitara
Mondo Cafe, Kemang, Jakarta
Tickets : Rp 35.000 (+free drink) at Mondo Cafe, Kemang

Menampilkan:
– KONCOS (Japan) | www.koncos.net
– Clover | www.facebook.com/weareclover
– Tokyolite | www.facebook.com/tokyolite
– Puti Chitara | www.putichitara.org

Map access to Mondo Cafe : http://wp.me/p3cPaz-2A

Kontak

Penyelenggara: Common People
Situs web: http://commonpeopleyk.wordpress.com
Twitter: @commonpeopleyk
CP: Azam (+6281328082087)

Source: Japanese Station, COMMON PEOPLE YK

Iklan

Komentarmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s